Om Swastyastu

Jauh Lebih baik mengetahui makna yadnya yang kita persembahkan

Rabu, 07 Maret 2012

Byakala (Byakaonan)

banten byakala
Pada umumnya, upakara byakala dipergunakan sebagai manggala (upacara pendahuluan), selaku upacara penyucian, baik untuk unsur Bhuana Agung maupun Bhuana Alit. Tujuannya mencapai keseimbangan antara lahir dan bhatin. Secara niskala, untuk menghilangkan kekuatan-kekuatan buruk bhuta kala serta mengembalikan ke sumbernya dan tidak mengganggu jalannya upacara.
Berikut ini tetandingan Banten Byakala :
Alasnya memakai sebuah sidi (ayakan bambu) di atasnya diletakkan sebuah kulit sasayut dari slepan/daun kelapa warnanya hijau, ditempeli kulit peras dari daun pandan berduri. Di atasnya diletakkan nasi matimpuh, nasi matajuh, penek hamong disisipi bawang merah, jahe, terasi mentah, disertakan sampian nagasari dari daun andong merah berisi plawa, porosan, bunga, rampe dan boreh miyik. Pada sekitarnya diletakkan isuh-isuh alasnya memakai ceper berisi sebutir telur ayam mentah, sapu lidi, sabet yaitu serabut kelapa dijepit dengan lidi dibelah, base-tulak, satu takir ramuan dari daun lalang, dadap, kayu tulak, kayu sisih ditumbuk, amel-amel alasnya memakai ituk-ituk berisi tiga lembar daun dadap, tiga pucuk dadap, padang lepas, seet mingmang dibuat dari 3 lembar ujung daun lalang diikat, dan semuanya itu disatukan lagi lalu diikat dengan benang tridatu (putih, merah, hitam). Sasak mentah alasnya memakai limas atau kau bulu (tempurung kelapa) berisi 3 pulung nasi, di atasnya diisi basa/bumbu dirajang disiram darah mentah dilengkapi dengan canang pabersihan, sorohan alit, panyeneng dan lis byakala, tatimpug, dan sebuah kekeb didalamnya berisi tampak dara serta satu ikat daun kelapa kering (danyuh).

1 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites