Om Swastyastu

Jauh Lebih baik mengetahui makna yadnya yang kita persembahkan

Jumat, 29 Juni 2012

Sloka 391-398 Sarasamuscaya (PITRAYANA - DEWAYANA)


PITRAYANA - DEWAYANA
  • 391. Adalah dua jalan, 1) Pitrayana dan 2) Dewayana. Jalan pertama dianjuran untuk mereka yang hidup berumah tangga/Grehasta melalui pelaksanaan-pelaksanaan lima macam pengorbanan tulus (kehadapan Tuhan, roh leluhur, guru, manusia, alam lingkungan beserta isinya); sedangkan jalan kedua adalah jalan lepas dari ikatan nafsu duniawi dan ego.
  • 392. Mereka yang mengikuti jalan Pitrayana dapat mencapai Surga/kebahagiaan melalui pelaksanaan kurban, teguh pada kebenaran, ketaatan pada etika dan moral, namun karena mereka masih terikat oleh motif-motif akan hasil, pada akhirnya duka pasti menyertai kebahagiaannya; maka dari itu jalan kebebasanlah yang menjadi lebih tinggi, bebas dari harapan-harapan akan hasil dari segala aktivitasnya dan tetap berbahagia dalam situasi apapun.
  • 393. Setelah segala pahala baik dari perbuatan bermotif dinikmati, maka kembalilah orang tersebut mengalami duka nestapa; bagaikan keadaan seekor tupai dalam menikmai makanan yang disimpannya untuk musim dingin, setelah makanan itu habis, diawal musim panas tersiksalah ia oleh perut laparnya dan kemudian ia harus kembali giat menimbun makanan untuk musim dingin berikutnya, begitulah keadaannya berulang-ulang.
  • 394. Kedukaan hidup akibat terbelenggu motif-motif kerja dan prilaku, pada akhirnya selalu saja bermuara pada kesedihan, maka dari itu hindarkanlah diri dari keterikatan akan hasil dari segala kegiatan pun usaha.
  • 395. Akibat terbelenggu oleh harapan akan hasil dari berbagai jenis pekerjaan, manusia diombang-ambing oleh perasaan suka dan duka. Apabila harapan itu tidak sesuai dengan keinginan, dukalah yang datang pada sang diri; walaupun seandainya hasil telah sesuai dengan harapan, tetap saja akan terlihat cacat dan kurangnya, inilah bukti bahwa sesungguhnya prosentase duka dalam kehidupan lebih besar dari sukanya.
  • 396. Sejak dilahirkan menjadi seorang bayi pun hingga hari tua tiba, manusia tersiksa oleh berbagai macam keinginan, dari hasrat buang hajat, perut lapar, kantuknya mata, dan oleh hasrat birahi.
  • 397. Sebenarnya musuh ataukah sahabat dari manusia adalah dirinya sendiri; apabila ia membiarkan dirinya tenggelam dalam kubangan ego dan nafsu-nafsu indrawi lalu diperbudak olehnya, sang diri menjadi musuh baginya; demikian juga apabila manusia mampu melepaskan dirinya dari ego dan bijaksana terhadap nafsu-nafsu indrawinya, sang diri menjadi sahabat sejatinya. Maka dari itu selalulah berusaha untuk dapat terbebas dari ego dan dapat lepas dari cengkraman nafsu.
  • 398. Karena sesungguhnya pikiranlah yang menyebabkan kesengsaraan, pikiran itu selalu mengarahkan sang diri untuk tidak pernah merasa puas akan apapun, pikiran juga yang mengarahkan ucapan dan prilaku manusia untuk tenggelam dalam lingkaran nafsu dan kesesatan; maka dari itu hendaklah pikiran itu didamaikan, dan diarahkan menuju kesucian dan kebebasan dari ego dan nafsu-nafsu sesat.

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites