Om Swastyastu

Jauh Lebih baik mengetahui makna yadnya yang kita persembahkan

Sabtu, 23 Juni 2012

Sloka 117-127 Sarasamuscaya (PERKATAAN)


PERKATAAN
  • 117. Ada dua hal yang membuat orang menjadi terpuji, petama tidak mengucapkan kata-kata kasar; kedua tidak berpikir untuk melakukan perbuatan jahat.
  • 118. Hendaknya perkataan selalu terarah pada sesuatu yang membawa kebaikan, namun hendaknya janganlah disesumbarkan atau dibicarakan secara berlebih-lebihan dengan maksud pamer, sebab pikiran baik jika dibicarakan dengan cara gembar-gembor dan berlebih-lebihan dapat menimbukan perasaan benci dari orang yang mendengarkannya.
  • 119. Jika perkataan itu muncul dari pikiran yang baik, dan cara pengungkapkannya juga dengan cara yang baik, maka kesenangan itu pasti dapat diperoleh. Sebaliknya meskipun maksudnya baik namun salah cara mengungkapkannya, tentulah akan menimbulkan duka nestapa bagi yang mendengarkannya.
  • 120. Perkataan yang tidak baik bagaikan anak panah yang dilepaskan dari busurnya, ia dapat melukai dan menembus hati orang yang mendengarkan, oleh karenanya kuasailah diri dengan mengendalikan kata dan bahasa.
  • 121. Demikian kuatnya efek dari perkataan, ia dapat menyakiti orang hingga kesumsumnya, oleh karena itu mereka yang bajik dan benar akan menghindar dari perkataan menghujat, mengecam, dan kata-kata jahat lainnya.
  • 122. Hutan yang semua pohonnya ditebang dapat tumbuh kembali dengan cepat, namun hati yang telah disakiti oleh perkataan, tersiksa dalam jangka waktu yang sangat lama.
  • 123. Janganlah menghina dan mencerca orang-orang yang cacat fisiknya, mereka yang buta huruf, orang yang hidup dalam kesengsaraan, orang sakit, orang yang tercela dan hina, orang yang tertimpa kecelakaan, orang miskin, orang bodoh; demikian juga janganlah mencela orang yang penakut, orang yang terkena aib ataupun yang diaibkan, janganlah kamu menghina makhluk-makhluk yang ada disemesta ini, sekalipun yang dianggap menjijikkan.
  • 124. Oleh karena itu, orang bijaksana yang berpegangteguh pada kebajikan dan kebenaran, tidak akan mencaci, tidak memfitnah, tidak mencela dan tidak berkata bohong. Manusia hendaknya selalu mempergiat dirinya dalam mengendalikan ucapannya dan selalu menjaga agar orang lain tidak terluka oleh ucapannya.
  • 125. Mereka yang memuji-muji orang tatkala berhadapan namun mencelanya dibelakang, mereka yang seperti ini adalah manusia behati keji dan akan dijauhkan dari kebahagiaan di dunia maupun di akherat.
  • 126. Oleh karena itu janglah kamu sekali-kali mengumpat orang, jangan mendengarkan umpatan orang, jauhkanlah diri dari situasi seperti ini (umpat-mengumpat).
  • 127. Orang yang jahat sekalipun takut hatinya kepada para pendusta dan pada mereka yang tempramental; sebab tiada bedanya mereka itu dengan ular yang dapat melahap anda secara dam-diam atau dengan bisanya yang mematikan.

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites