Om Swastyastu

Jauh Lebih baik mengetahui makna yadnya yang kita persembahkan

Jumat, 29 Juni 2012

Sloka 300-351 Sarasamuscaya (PERGAULAN)


PERGAULAN
  • 300. Pergaulan dengan cepat dapat menularkan hal-hal yang baik apabila bergaul dengan orang-orang utama; seperti bau bunga (parfum) yang dapat beralih kepada kain, air, minyak dan tanah apabila bersentuhan dengan bunga (parfum) itu.
  • 301. Oleh karenanya, bisa-bisa merosot budi seseorang jika ia bergaul dengan orang yang hina budi (jahat). Jika mereka bergaul dengan yang madya budi (sedang-sedang) madyalah yang ditularkan. Jika ia bergaul dengan orang yang utama budi, maka utama budilah yang akan diperolehnya.
  • 302. Mesikipun sedikit kepandaian/kebijaksanaan seseorang, apabila bertempat tinggal dengan orang yang pandai/bijaksana dan selalu bertanya ilmu pengetahuan dengannya, maka akan semakin bertambah pandai/bijaksanalah hasilnya, bagaikan zat warna yang jatuh pada air, akan menyebar dan akhirnya mewarnai air itu.
  • 303. Biarpun pandai/bijaksana, jika bertempat tinggal dan bergaul dengan orang-orang bodoh/tidak bijaksana, maka kepandaian/kebijaksanaan itu akan menjadi kehilangan hakekatnya; bagaikan gajah yang dilihat melalui cermin kecil, akan kecil pulalah terlihat bayangan si gajah.
  • 304. Apapun alasannya janganlah membenci ilmu pengetahuan, tuntut dan kejarlah ilmu itu, pengetahuan akan membuka wawasan dan menjauhkan kita dari dosa-dosa; sebab orang yang bodoh tidak akan pernah sadar, bahwa yang terlebih dahulu harus diperangi dan ditundukkan adalah sisi pribadi yang bodoh dan jahat.
  • 305. Jika berteman, hendaknya orang yang berbudi luhur saja yang menjadi teman anda. Jika hendak mencari saudara, hendaknya orang yang berbudi luhur saja menjadi saudara anda. Andai berdebat dan berbantahan sekalipun, hendaknya orang yang berbudi luhur saja yang menjadi lawan anda. Apalagi jika anda mencari sahabat, orang yang berbudi luhur saja hendaknya menjadi sahabat anda, sebab mustahil anda tidak akan kelimpahan budi luhur itu jika selalu berinteraksi dengan orang-orang yang berbudi luhur.
  • 306. Adapun orang yang berbudi utama, mereka tidak gembira jika dipuji, tidak sedih jika dicela/dihina, tidak gusar dan pemarah, tidak mengucapkan kata-kata kasar; sebaliknya tetap teguh dalam kebenaran, berhati bersih, dan berpikiran suci.
  • 307. Mereka yang utama budi tidak memikirkan cacat dan dosa orang lain, pun tidak akan mengeluarkan kata-kata kasar dalam menanggapi celaan dan hinaan orang. Dalam hatinya yang dilihat hanyalah kebajikan dan perbuatan baik orang dan selalu berpikiran positif. Tidak ada kemungkinan apapun yang dapat membuatnya menyimpang dari kebajikan dan kebijaksanaan, ia selalu berkeadaan teguh pada susila, etika, dan sopan santun. Orang bajik dan bijaksana disebut juga sebagai manusia utama.
  • 308. Demikianlah disimpulkan, orang yang bajik, penuh pengetahuan, dan bijaksana, dapat dilihat dari kesabaran dan kerendahhatiannya; bagaikan keadaan padi yang merunduk lantaran berat buahnya, pun pohon yang dilebati buah merunduk lantaran menopang berat buah-buahnya.
  • 309. Orang bijaksana tidak akan menceritakan keburukan orang lain apalagi dibelakang orang tersebut, selalu berusaha untuk menolong orang-orang yang kesusahan, tidak diliputi kemarahan dan kebencian. Sangatpantaslah orang bijaksana untuk di hormati.
  • 310. Manusia suci adalah mereka yang dipenuhi kebijaksanaan, terpelajar dan berpengetahuan, tidak sombong, berbudi lembut, tidak berangasan dan tidak diliputi amarah, ia dihormati dan dituruti perintahnya.
  • 311. Meskipun hanya setengah dari seluruh kebajikan orang suci dapat dituruti, niscaya dapat menolong anda dari kesusahan dan neraka.
  • 312. Tidak hanya manusia hidup yang menyayangi orang- orang suci, bahkan roh pun menyayanginya. Mereka yang meniru dan menuruti bimbingan orang-orang suci adalah orang yang sesungguhnya menyayangi dirinya sendiri.
  • 313. Jika ada orang yang berbuat bajik bukan karena hasrat akan pahala namun lebih dipandang sebagai kewajiban diri; Prilaku bajik yang jauh dari motif-motif pahala seperti ini merupakan tindakan cerdas, terpelajar dan bijaksana. Jangan pernah memandang dan menghitung pahala dari kebajikan yang dilakukan.
  • 314. Tirulah perbuatan orang bajik dengan tekun dan teguh. Harta kekayaan tidak selayaknya dipegang teguh jika bertentangan dengan kebajikan, sebab ia dapat datang atau pergi dan sulit untuk dijaga; lagi pula bukanya orang yang tidak berharta dinamakan miskin. Walau tanpa harta, jika kaya moralitas, bajik dan susila, inilah sesungguhnya yang dinamakan kaya; meskipun ada orang yang kaya harta namun jahat, amoral dan asusila, mereka inilah yang disebut miskin.
  • 315. Oleh karena itu timbang dan pikirkanlah perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan sehari-hari. “Salah atau bernarkah perbuatan itu”? “Sama dengan hewankah atau dengan orang bajik tingkahlakuku”? Demikianlah hendaknya pertimbangan kita dari hari kehari dan senantiasalah menasehati diri sendiri.
  • 316. Mereka yang akan menerima pahala dari perbuatan itu adalah mereka yang berbuat, yang menyuruh berbuat, serta mereka yang membenarkan perbuatan itu. Ketiganya sama-sama akan memperoleh pahala dari perbuatan itu, apapun macamnya, apakah buruk ataukah baik.
  • 317. Oleh karenanya perbuatan baiklah yang harus dilakukan dan terus diusahakan. Meskipun orang berbuat jahat kepada kita, hendaklah dibalas dengan perbuatan bajik. Kejahatan jangan dibalas dengan kejahatan, sebab kita akan terjebak dalam kejahatan dan menjadi sama saja dengan mereka yang jahat. Siapa yang berbuat akan memperoleh karmanya.
  • 318. Bagaikan bongkahan-bongkahan batu besar yang dinaikkan ke gunung dengan sangat sulitnya, namun ketika diturunkan dapat dilakukan dengan cara yang sangat mudah. Demikianlah kelahiran menjadi manusia ditingkatkan dengan cara yang teramat sulit, namun dapat diturunkan dengan sangat mudahnya. Maka dari itu berusahalah dengan tekun untuk meningkatkan kebajikan dalam diri, niscaya kualitas penjelmaan dapat terus ditingkatkan.
  • 319. Perbuatan bajik/baik membawa ke alam surga; dimuka bumi menjadi kenangan dan pembicararaan. Oleh karenanya selalulah berbuat kebajikan, inilah hakekat dan tujuan dari penjelmaan.
  • 320. Perbuatan bajik yang membawa kemasyuran bagaikan seorang ibu keberadaannya, karena sama-sama diingat berkat jasa-jasanya. Sekalipun telah mati, mereka yang termasyur dengan kebajikan akan tetap dikenang dan hidup dalam hati masyarakat, sebab kebajikan itu abadi. Tapi mereka yang tanpa kebajikan akan musnah seiring waktu, pun apabila kejahatan yang dilakukannya, orang-orang akan mengingatnya sebagai manusia hina, ini berkeadaan lebih buruk dari mati.
  • 321. Jika ingin menjaga nama baik inilah yang hendaknya dilakukan: jangan menghianati sahabat, jangan menghianati kepercayaan yang diberikan, jangan menghianati orang yang membiayai anda, yang menghidupi anda, dan jangan menghianati orang yang memberi perlindungan kepada anda. Mereka yang berbuat nista adalah orang yang tidak berterima kasih dan membalas kebajikan-kebajikan orang dengan kejahatan.
  • 322. Menghina orang suci, mabuk-mabukan, dan mencuri adalah perbuatan dosa, namun bagaimanapun juga ia masih dapat ditebus. Akan tetapi dosa yang diakibatkan oleh perbuatan tidak tahu berterimakasih akan kebajikan orang, ia tidak akan dapat ditebus dengan apapun juga.
  • 323. Mereka yang menjahati orang yang tidak berniat jahat terhadapnya, dengan pasti dan tanpa ampun akan masuk kejurang neraka.
  • 324. Mereka yang jahat sesungguhnya tidak pernah sayang kepada dirinya sendiri, sebab membiarkan dirinya berbuat jahat, dan kemudian dirinya sendirilah yang akan mengalami siksa dari kejahatan yang diperbuatnya, tidak sayanglah orang yang menyebabkan dirinya sendiri sengsara.
  • 325. Orang seperti inilah yang tidak pantas untuk diajak bergaul dan dijadikan kawan: 1) mereka yang selalu berusaha untuk menyakiti orang lain: 2) mereka yang suka membuat orang lain bersedih hati; 3) mereka yang tidak memiliki kesopanan, etika dan susila; 4) mereka yang tidak suka menepati janjinya; 5) mereka yang suka berkata bohong dan dusta; 6) mereka yang suka mabuk-mabukan. Keenam tipe orang inilah yang hendaknya dijauhi saja.
  • 326. Jika bergaul dengan orang yang jahat, niscaya dan tidak mungkin dihindari akan menular juga noda kejahatan mereka itu. Bagaikan pohon kayu yang subur, ia akan ikut terbakar juga jika bercampur dengan kayu-kayuan kering, oleh karenanya jangan berkawan dan bersahabat dengan orang yang jahat perbuatannya.
  • 327. Sebaiknya hindari saja untuk bersahabat atau bermusuhan dengan orang jahat. Jangan suka dijilati anjing, apalagi bila sampai digigitnya.
  • 328. Mereka yang jahat tiada bedanya dengan duri, agar tidak tertusuk duri pakailah terompah, atau hindari duri tersebut. Dengan orang jahat usahakan agar mereka tunduk meskipun dengan cara yang keras (hukuman), atau jauhi saja mereka. Inilah dua macam cara untuk menghindari duri dan orang jahat.
  • 329. Waspadalah selalu kepada orang jahat, meskipun seolah-olah mereka terlihat tunduk dan menurut; bagaikan ular, meskipun telah lama dilatih tidak urung sekali waktu ia akan memagut juga.
  • 330. Dan juga mereka yang berbudi rendah, menjadi semakin sombong saja tingkah lakunya jika melihat orang yang berbudi luhur lantaran kesusilaan, etika dan norma terlihat mengalah padanya. Tidak mempunyai malu si durjana itu dengan angkuhnya menatap sang sujana ketika berpapasan, dan ia berpikir bahwa sang sujana telah tunduk padanya, bagaikan keadaan gajah tunggangan yang merunduk ketika melihat tuannya.
  • 331. Hendaknya orang berbudi utama, jangalah mudah percaya kepada orang jahat, walaupun si jahat terlihat tunduk dengan menundukkan wajah dan sujud menyatakan hormat. Sebab mereka yang dilekati kejahatan dapat melakukan segala cara untuk meraih tujuannya. Apabila timba itu jatuh telungkup disumur, niscaya ia hendak mengambil airnya.
  • 332. Jangan bergembira dulu jika tidak diganggu oleh si durjana kawan anda, sebab banyak orang merasa beruntung tidak digigit ular, walaupun tubuhnya nyata-nyata telah kena belitan.
  • 333. Biarpun manis dan lemah lembut tuturkata si durjana, tidak ada salahnya untuk waspada saja; sebab bunga yang bermekaran tidak pada musimnya, adalah sebuah pertanda bencana.
  • 334. Tidak akan dijumpai kewelas asihan pada tindakan yang kejam, demikian juga tidak akan dijumpai kekejaman pada tindakan welas asih. Demikian kebajikan tidak akan dijumpai pada kejahatan, demikian juga pada kejahatan tidak akan dijumpai adanya kebajikan.
  • 335. Inilah keadaan dari pucuk tunas pohon intaran, rasanya tetap akan pahit walaupun berkali-kali pohonnya telah ditebang. Meskipun orang telah berkali-kali mencucinya, atau bahkan melumurinya dengan madu, rasanya tetap akan pahit. Walaupun diluluri dengan bumbu-bumbuan, rasanya tetap akan pahit. Demikianlah keadaan dari manusia durjana, tidak dapat dirubah menjadi bajik walaupun telah dihukum dengan keras, pun juga tidak dapat diperbaiki prilakunya dengan cara disanjung-sanjung.
  • 336. Bagi orang yang berbudi, pengetahuan itu gunanya untuk menghilangkan keangkuhan, namun bagi mereka yang tidak berbudi, pengetahuan itu justru semakin membangkitkan keangkuhannya. Bagaikan sinar matahari bertujuan untuk menghilangkan kegelapan, namun bagi mereka yang sedang sakit mata dan rabun (pada burung hantu), sinar matahari justru membuat pengelihatannya semakin kabur karena silaunya.
  • 337. Inilah yang menyebabkan munculnya kesombongan bagi si papa budi, diantaranya: widyamada, dhanamada, dan abhijanamada. Widyamada adalah mabuk/angkuh karena merasa diri berpengetahuan; dhanamada mabuk/angkuh karena merasa diri kaya; abhijanamada mabuk/angkuh karena merasa diri bangsawan.
  • 338. Adalah lebih baik besi keadaannya dibanding orang sombong dan angkuh, sebab besi itu dapat dibengkokan, dapat disambung, dapat dicairkan dengan cara di panaskan; sedangkan mereka yang sombong dan angkuh tetap teguh dengan kesombongan dan keangkuhannya.
  • 339. Mereka yang durjana akan sangat pandai menyembunyikan maksud jahatnya, bagaikan keberadaan api dalam sekam, apinya tidak tampak namun dengan tiba-tiba menghanguskan apapun yang tersedia.
  • 340. Bahkan karena kehebatan politiknya, banyak orang-orang berbudi pekerti baik menjadi jatuh dalam cengkraman si durjana.
  • 341. Mereka yang durjana, sombong, dan angkuh, dapat melihat dosa kecil orang lain dengan sangat jelasnya, anehnya mereka tidak dapat melihat dosanya sendiri walaupun sebesar gunung.
  • 342. Mereka yang berbudi baik akan sangat senang hatinya dapat menghormati orang-orang bajik, sedangkan manusia durjana, sombong dan angkuh, menjadi sangat bangga hatinya apabila dapat menistakan, mengejek, dan berlaku kurang ajar kepada orang yang berbudi baik dan berlaku bajik.
  • 343. Orang kaya yang kikir, orang miskin yang angkuh, orang bodoh yang benci ilmu; inilah kriteria orang bodoh.
  • 344. Orang yang dengan keras menghukum mereka yang berbuat salah, sedangkan ia sendiri dengan sengaja melakukan juga kesalahan itu, ada juga orang yang marah-marah terhadap mereka yang tidak pantas untuk dimarahi; kedua orang ini disebut tolol.
  • 345. Orang kasar dan tidak menyukai perkataan lemah lembut, disebabkan oleh tingkahlakunya yang kesasar. Ia lupa bahwa untuk membuktikan kemurnian mas adakalanya mas tersebut harus digosokkan terlebih dahulu. Orang yang berhati halus, walaupun dikasari tetap akan menunjukkan kelembutannya.
  • 346. Apabila seseorang yang utama budi dikarenakan oleh sesuatu berinteraksi dengan si hina budi, seketika si hina budi akan merasa dirinya orang besar, walaupun orang-orang telah mencapnya sebagai manusia hina budi. Mestinya si hina budi segera meniru prilaku si utama budi agar ia bisa menjadi besar.
  • 347. Adapun orang yang suci hati, biarpun ia dikasari dan di puji, namun yang bermanfaat saja akan di pilihnya; seperti keadaan angsa, walapun mencari makanan di lumpur, tidak akan ikut lumpur itu dimakannya.
  • 348. Orang yang utama budi walaupun diupahi berlimpah harta untuk berbuat jahat, ia akan tetap menolaknya; akan tetapi mereka yang hina budi/jahat, walaupun diupahi agar tidak berbuat jahat, ia akan tetap melakukan kejahatan.
  • 349. Walaupun sempurna ilmu pengetahuan seseorang, jika ia hina budi, tiada gunanya semua itu; kiab suci yang semestinya mengarahkan manusia menuju kebajikan menjadi tanpa guna, bahkan si papa budi dengan pengetahuannya akan menjadi racun bagi yang lainnya. Demikian juga orang kaya namun kikir serta orang yang berkuasa namun tidak melindungi orang yang pantas.
  • 350. Singkatnya, ilmu pengetahuan jika dikuasai oleh orang yang hina budi/jahat, sia-sialah keutamaannya; bagaikan hilangnya kesucian air jika ditempatkan pada tengkorak, pun hilangnya kejernihan air jika ditempatkan pada bejana yang penuh debu dan kotoran, sia-sialah semuanya itu.
  • 351. Jika ilmu pengetahuan utama dipelajari oleh orang yang hina budi/jahat, ilmu itu tidak akan pernah sempurna, sebab dapat dipastikan tidak didasari oleh prilaku yang utama; bagaikan ekor rigala tidak akan mampu dengan sempurna mengusir lalat yang mengerubungi sekujur tubuhnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites